PENDAHULUAN
Tes
merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur
sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Tes
merupakan alat yang direncanakan untuk mengukur kemampuan, keahlian atau
pengetahuan. Sehingga, dalam melakukan tes dibutuhkan perencanaan tes,
pengembangan tes, prosedur penulisan ataupun penyusunan butir-butir soal.
Untuk merencanakan,
mengembangkan maupun menuliskan butir-butir tes tersebut diperlukan adanya
langkah-langkah ataupun prosedur yang diikuti secara sistematis sehingga dapat
diperoleh tes yang lebih efektif. Dalam merencanakan tes, hal yang lebih dahulu
dilakukan ialah menentukan dan merumuskan tujuan tes. Kemudian, dalam pengembangan
tes melibatkan kegiatan identifikasi hasil belajar, deskripsi materi,
pengembangan spesifikasi, penulisan butir dan kunci jawaban, pengumpulan data
uji coba, pengujian kualitas butir dan perangkat, serta komplikasi.
Makalah ini
ditulis untuk menambah pengetahuan dan wawasan pembaca dan pemakalah khususnya
mengenai perencanaan tes, pengembangan tes dan penyusuna non-tes dan mampu
mengaplikasikannya dengan mengikuti prosedur yang ada. Selanjutnya, untuk
pembahasan lebih dalam mengenai prosedur dalam merencanakan tes, mengembangkan
dan menyusun tes akan dibahas di dalam makalah ini.
PERENCANAAN
TES, PENGEMBANGAN TES, PENULISAN SOAL DAN PENYUSUNAN NON-TES
- PERENCANAAN TES
Tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk
mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang
sudah ditentukan. Tes juga dapat diartikan sebagai salah satu cara untuk
mengetahui kondisi siswa. Kondisi yang dimaksud adalah prestasi belajar siswa.[1]
Tes merupakan alat yang direncanakan untuk mengukur
kemampuan, keahlian atau pengetahuan. Dalam merencanakan tes
diperlukan adanya langkah-langkah yang harus diikuti secara sistematis sehingga
dapat diperoleh tes yang lebih efektif. Adapun perencanaan tes yang dilakukan ialah
sebagai berikut:
·
Menentukan atau merumuskan tujuan tes.
·
Mengidentifikasi hasil-hasil belajar (learning
outcomes) yang akan diukur dengan tes itu.
·
Menentukan atau menandai hasil-hasil belajar yang
spesifik
·
Merinci mata pelajaran atau bahan pelajaran yang akan
diukur dengan tes itu.
·
Menyiapkan tabel spesifikasi (semacam blueprint).
·
Menggunakan tabel spesifikasi tersebut sebagai dasar
penyusunan tes.[2]
Ada tujuh hal yang harus
dipertimbangkan dalam perencanaan tes, yaitu:
·
Pemilihan butir soal
·
Tipe soal yang akan digunakan
·
Aspek yang akan diuji
·
Format butir soal
·
Jumlah butir soal
·
Distribusi tingkat kesukaran butir soal
·
Kisi-kisi tes.[3]
- PROSEDUR PENGEMBANGAN TES
Prosedur pengembangan tes melibatkan kegiatan identifikasi
hasil belajar, deskripsi materi, pengembangan spesifikasi, penulisan butir dan
kunci jawaban, pengumpulan data uji coba, pengujian kualitas butir dan
perangkat, serta komplikasi. Secara lebih lengkap prosedur tersebut akan
diuraikan sebagai berikut:
1)
Identifikasi hasil belajar
Hasil belajar harus diidentifikasi bidang studi yang
hendak dikukur hasil belajarnya. Di samping itu hasil belajar juga harus
diidentifikasi aspek mana yang diukur ranah kognitif, afektif atau
psikomotoriknya.
2)
Deskripsi materi
Materi sangat menentukan dalam pengembangan tes. Data
hasil belajar yang ingin dikumpulkan didasarkan pada informasi mengenai hasil
belajar sebagimana sudah dideskripsikan dalam materi, sehingga data sangat
ditentukan oleh uraian materi tentang hasil belajar yang akan diukur datanya.[4]
3)
Pengembangan spesifikasi
Spesifikasi
Tes adalah suatu uraian yang menunjukkan keseluruhan kualitas tes dan ciri-ciri
yang harus dimiliki oleh tes yang akan dikembangkan. Pengembangan spesifikasi
merupakan langkah awal yang menentukan dalam pengembangan perangkat tes, karena
apa yang menentukan pada langkah-langkah berikutnya sudah dirancangkan dalam
spesifikasi tes.[5]
Spesifikasi pengembangan tes meliputi :
·
Menentukan jenis tes
·
Menentukan banyak butir tes
·
Menentukan waktu pengerjaan
·
Mennetukan peserta uji coba
·
Mennetukan waktu uji coba
·
Menentukan aturan skoring
·
Menentukan kriteria kualitas tes
·
Menyusun kisi-kisi tes
4)
Menuliskan butir-butir tes dan kunci jawaban
Kisi-kisi tes adalah rancangan sebagai dasar penulisan
butir-butir tes. Butir ditulis untuk mengukur variabel dengan berpedoman pada
kisi-kisi. Sehubungan dengan penulisan butir tes, Suryabrata memberikan pedoman
sebagai berikut:
·
Nyatakan soal sejelas mungkin
·
Pilihlah kata-kata yang mempunyai arti tepat
·
Hindarilah pengaturan kata yang kompleks dan janggal
·
Masukkan semua keterangan yang diperlukan untuk
membuat jawaban
·
Hindarilah memasukkan kata-kata yang tidak berfungsi
·
Rumuskan soal setepat mungkin
·
Sesuaikn taraf kesukaran soal dengan kelompok dan
tujuan yang dimaksudkan
·
Hindarilah isyarat ke arah jawaban benar yang tidak
perlu
Kunci jawaban harus ditentukan dalam spesifikasi tes
hasil belajar supaya orang lain dapat mengikuti perolehan hasil belajar
responden dari jawaban yang dibuatnya. Sebagaimana jenis jawaban yang
dituntutnya, kunci jawaban soal esai berbeda dengan objektif. Kunci jawaban
soal esai berupa uraian, sedang objektif berupa pilihan dari beberapa
alternatif.
5)
Mengumpulkan data uji coba hasil belajar
Pengumpulan data uji coba dilakukan dengan mengujikan
instrumen uji coba tes yang ditulis berdasarkan kisi-kisi.[6]
6)
Uji kualitas tes
Butir tes yang ditulis berdasarkan kisi-kisi adalah
butir yang secara teori baik. Untuk memastikan apakah butir yang secara teori
baik juga baik secara empiris perlu dilakukan uji coba kualitas. Uji kualitas
dilakukan untuk menjamin bahwa tes layak sebagai sebuah alat ukur. Setelah
berdasarkan uji kualitas menunjukkan bahwa tes memenuhi syarat, maka tes dapat
digunakan untuk mengukur atau mengumpulkan data hasil belajar.
7)
Kompilasi tes
Kompilasi tes adalah menyusun kembali butir setelah
uji coba dengan membuang butir yang jelek dan menata butir yang baik. Butir
kompilasi adalah butir yang siap digunakan untuk mengumpulkan data hasil
belajar.[7]
- PENULISAN SOAL
Menurut Sumadi Surybrata, secara umum kemampuan khusus
yang harus dimiliki bagi penulis soal adalah:
·
Penguasaan pengetahuan yang diteskan
·
Kesadaran akan tata nilai yang mendasari pendidikan
·
Pemahaman akan karakteristik individu yang dites
·
Kemampuan membahas gagasan
·
Penguasaan akan teknik penulisan soal, dan
·
Kesadaran akan kekuatan dan kelemahan dalam menulis
soal
Fungsi tes tidak semata-mata sebagai alat ukur saja, melainkan
memiliki fungsi motivasi dan pembentukan sikap bagi peserta didik. Oleh karena
itu penulisan soal hendaknya memahami nilai-nilai yang mendasari
pendidikan, seperti tujuan pendidikan, filsafat pendidikan, sistem pendidikan,
psikologi, garis-garis besarnya saja.
Dalam menulis soal diperlukan kemampuan untuk membahas
gagasan dalam bahasa verbal yang jelas dan mudah dipahami maksudnya, sebab soal
merupakan wakil dari pendidik yang hadir dihadapan peserta didik’oleh karena
itu penulisan soal membutuhkan bahasa yang lugas dan tidak berbelit-belit.[8]
Menurut Bott (1995), prinsip umum yang
dapat dijadikan sebagai dasar penyusunan tes dalam penulisan butir-butir soal
ialah :
·
Kaitkan butir-butir tes dengan tujuan
pembelajaran
·
Perencanaan tes
·
Penyiapan tes
·
Uji coba tes
·
Evaluasi tes[9]
Dalam penulisan
butir-butir soal, baik dalam bentuk tes objektif maupun tes essai (uraian), terdapat
syarat-syarat penyusunannya. Syarat penyusunan tes objektif terdiri dua bagian
yaitu:
1. Syarat-syarat
umum
Berikut
ini beberapa syarat yang perlu diperhatikan dalam menyusun objective test :
·
Tiap bentuk dari tes objektif harus
didahului dengan penjelasan atau anjuran bagaimana cara mengerjakannya.
·
Penjelasan atau anjuran itu harus
diusahakan jangan terlalu panjang, tetapi jelas bagi yang menjawabnya
(disesuaikan dengan tingkat sekolah dan kecakapan bahasa anak).
·
Hindarkan pertanyaan yang mempunyai
lebih dari satu pengertian atau yang dapat diartikan atau ditafsirkan
bermacam-macam.
·
Tiap-tiap butir soal haruslah tetap,
gramatikanya baik sehingga tidak membingungkan dan menimbulkan salah tangkap.
·
Jangan menyusun item secara
langsung menjiplak dari buku, karena
item yang demikian hanya memaksa siswa untuk menghafal dan kurang merangsang
siswa untuk berfikir.
·
Harus diteliti jangan sampai item yang
satu mempermudah atau mempersukar item yang lain (terutama dalam menyusun true-false dan multiple choice).
·
Janganlah item yang satu bergantung pada
item yang lain atau item yang terdahulu
2.
Syarat-syarat Khusus
a) Untuk
completion atau fill-in
· Bahasa
hendaknya jelas, kalimat jangan terlalu panjang sehingga mudah dipahami.
· Yang
dihilangkan atau harus diisi (titik-titik) janganlah mengenai satu hal saja,
tetapi harus beberapa hal. Misalnya dalam sejarah, yang dihilangkan jangan
hanya “tanggal dan tahunnya” atau “nama tokoh-tokoh” atau “peristiwa”, tetapi
harus mencakup semua hal tersebut.
· Jawaban
(isi titik-titik) jangan merupakan kalimat panjang. Sebab kalau demikian, bukan
tes objektif lagi, melainkan menyerupai tes essay.
· Jumlah
jawaban (titik-titik) harus tertentu supaya memudahkan pengetes untuk
menskornya (10, 20, 25 dan sebagainya)[10]
b) Untuk
true-false
·
Hindarkan item yang dapat dinilai
“benar” dan “salah” secara meragukan.
Contoh:
B – S : Saya mendaftar ke IKIP karena takut
kalau-kalau tidak diterima di UI
Apakah item ini benar
atau salah? Calon mahasiswa yang menggunakan IKIP sebagai cadangan, secara
jujur akan membenarkan item tersebut. Akan tetapi, bagi pengetes maksudnya
adalah sebaliknya.
·
Soal-soal atau item tidak boleh
mengandung kata-kata yang merupakan atau terlalu menunjukkan jawabannya.
Misalnya dengan digunakannya kata-kata: kadang-kadang,
mungkin, sudah pasti, barangkali, selalu, dan sebagainya.
·
Sedapat mungkin hindarkanlah statement yang negatif, yang mengandung
kata “tidak” atau “bukan”. Contoh item yang salah”
B
– S : Teleskop kadang-kadang (selalu) sama gunanya dengan teropong bintang.
B –
S : Termometer bukan pengukur
suhu udara.
·
Hindarkanlah kalimat yang terlalu
panjang atau kalimat majemuk yang
meragukan.
Contoh yang salah :
B
– S : Bapak sistem pengajaran klasikal
ialah Peestalozi dan ia mendirikan Kinder Garten yang pertama
Contoh yang baik:
B – S :
Pestalozi adalah pelopor sistem pengajaran klasikal
B – S : Sekolah
Monstessori terkenal dengan nama Kinder Garten
c) Untuk
multiple choice
· Statement
harus jelas merumuskan suatu masalah. Tentukanlah sebelumnya bahwa hanya ada
satu jawaban yang paling benar dan tepat.
· Baik
statement maupun option sedapat mungkin jangan merupakan suatu kalimat yang terlalu
panjang.
· Hindarkanlah
option yang tidak ada sangkut-pautnya
satu sama lain. Dengan kata lain, option (pilihan
jawaban) hendaknya homogen.[11]
Contoh yang salah:
Hasil
perkebunan Provinsi Lampung adalah:
a. Karet b. Lada c.
Terigu d. Bawang
Contoh yang baik:
Hasil perkebunan
Lampung yang terbesar adalah:
a. Karet b. Lada c.
Kelapa sawit d.kopi
Sedangkan
dalam penulisan butir-butir soal esai, perlu kiranya guru atau pembuat tes
memperhatikan hal-hal berikut ini:
- Sebelum
memulai menulis soal yang dimaksud, hendaknya jelas dalam pikiran kita proses
mental manakah yang kita harapkan dari mudrid untuk menjawab soal tersebut.
Guru
atau penyusun tes harus benar-benar memahami macam-macam jenis respons stimulus
(jenis soal) yang diperlukan untuk menimbulkan atau memancing keluarnya
respons-respons tersebut.
- Gunakanlah
bahan-bahan atau himpunan bahan-bahan dalam menyusun soal-soal essay
tersebut.
Contoh:
Soal
1 : Metode-metode apakah yang telah dipakai di Amerika Serikat untuk menjaga
dan mengawasi penyakit-penyakit yang banyak menyerang masyarakat?
Soal
nomor 1 di atas sebenarnya kurang baik karena siswa yang menjawab soal tersebut
hanya berusaha mengingat kembali nama beberapa metode yang ditanyakan. Siswa
tidak atau kurang menggunakan daya berpikirnya. Pertanyaan atau soal tersebut
aan menjadi lebih baik jika diubah seperti soal nomor 2 berikut ini:[12]
Tabel
Sebab-Sebab
Dan Banyaknya Kematian Pada Tahun 1900 Dan 1967
|
Sebab kematian
|
Angka kematian per 100.000 orang
|
|
|
1900
|
1967
|
|
|
1. Penumonia
2. Diare
dan enteritis
3. Penyakit-penyakit
hati
4. Kanker
5. Difteria
|
175,4
139,9
137,4
64,0
40,3
|
21,8
2,0
399,9
160,9
0,02
|
Perhatikan data pada tabel di atas!
Jelaskan bagaimana pengubahan dalam kondisi-kondisi kehidupan di Amerika
Serikat antara tahun 1900 dan 1967 berdasarkan perubahan angka kematian seperti
terlihat dalam tabel.
- Mulailah
pertanyaan atau soal essay itu dengan kata-kata seperti : “Bandingkan”, ”Berilah alasan”, “Berilah
contoh-contoh yang sesuai”, “Terangkan bagaimana....”, “Jelaskan/ramalkan
apa yang terjadi jika....”, dan “Jelaskan
bagaimana pendapat Anda”. Janganlah memulai soal essay dengan
kata-kata: “Apa”, “Siapa”, “Kapan”,
atau “Bilamana” dan “Berapa”
- Tulislah
pertanyaan atau soal essay itu sedemikian rupa sehingga tugas apa yang
harus dilakukan siswa jelas dan tidak mempunyai arti ganda (ambiguous) bagi setiap murid.[13]
- Soal essay
berhubungan dengan hal-hal yang merupakan “controversial issue” dalam masayarakat. Penyusunannya
hendaklah diarahkan untuk menilai bagaimana pendapat dan pengertian siswa
terhadap issue yang ditanyakan,
dan bukan untuk menuntut siswa agar menerima suatu kesimpulan atau cara
pemecahan tertentu. Kita menegetahui bahwa banyak issue yang dialami individu dan masyarakat tidak ada jawaban
atau kesimpulann yang bersifat umum atau yang dianggap benar oleh semua
orang.
Ada
pertanyaan seperti : Usaha apakah yang
tepat untuk dilakukan oleh Gubernur DKI untuk menanggulangi makin banyaknya
gelandangan umum?” Akan tetapi kita dapat menanyakan kepada siswa untuk
menanggapi masalah tersebut dengan pertanyaan sebagai berikut:
“Untuk menanggulangi masalah mengenai semakin
banyaknya gelandangan di DKI Jakarta, Gubernur Jakarta Raya telah mengeluarkan
surat keputusan tentang larangan pendaftaran menjadi penduduk baru di DKI bagi
orang yang berasal dari daerah lain.” Bagaimana pendapat Anda tentang surat keputusan
tersebut? Jelaskan dan berilah alasan-alasan yang logis dan tepat!
Dengan
soal semacam ini guru hendaknya jangan menilai apakah pendapat siswa sesuai
dengan pendapatnya atau sesuai dengan apa yang telah diterangkan, tetapi ia
hendaknya menilai bagaimana kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapatnya
sendiri dan caranya mempertanyakan dengan alasan yang tepat dan logis.
- Usahakan
agar soal essay yang kita susun itu benar-benar dapat menimbulkan perilaku
yang kita kehendaki untuk dilakukan oleh siswa. Soal-soal essay buatan
guru seringkali bersifat kurang menuntut kemampuan skill atau aplikasi
seperti:
“Berilah definisi tentang apa yang
dimaksud dengan kesehatan yang baik!”
”Apa yang dimaksud dengan imunitas
aktif dan imunitas pasif? Dan apa pula perbedaannya?”
Dalam
soal-soal seperti di atas, guru tidak menekankan pada apa atau bagaimana
pendapat siswa itu sebenarnya, tetapi pada apakah siswa mengetahui materi
faktual yang telah dipelajarinya
- Sesuaikan
panjang-pendeknya dan kompleksitas jawaban dengan tingkat kematangan siswa.[14]
- PENYUSUNAN NON-TES
Evaluasi non-tes berarti
melaksanakan penilaian dengan tidak mengunakan tes. Teknik penilaian ini
umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap,
tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Yang
berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu
maupun secara kelompok.
Penilaian non-test adalahh penilaian
pengamatan perubahan tingkah laku yang berhubungan dengan apa yang telah diperbuat
atau yang telah dikerjakan oleh peserta didik dibandingkan dengan apa yang dikethui atau dipahaminya.
Berikut
ini jenis-jenis instrumen non-tes dan penyusunannya:
1. Observasi
Observasi merupakan suatu pengamatan
langsung terhadap siswa dengan memperhatikan tingkah lakunya. Secara umum
observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan
dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap
fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.
Bentuk
pengisian pedoman bisa secara bebas dalam bentuk uraian, bisa pula dengan
bentuk member tanda cek (V) pada kolom jawaban observasi bila pedoman yang
dibuat telah tersedia jawabannya (terstruktur).
Ada tiga jenis observasi, yaitu :
·
Observasi langsung, yakni pengamatan yang dilakukan
terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya dan
langsung diamati oleh pengamat.
·
Observasi dengan alat (tidak langsung), yaitu
observasi yang dilaksanakan dengan menggunakan alat seperti miskroskop untuk mengamati
bakteri, surya kanta untuk melihat pori-pori kulit.
·
Observasi partisipasi, yaitu pengamatan yang harus
melibatkan diri atau ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh individu
atau kelompok yang diamati.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam
membuat pedoman observasi langsung adalah sebagai berikut:
·
Lakukan terlebih dahulu observasi langsung terhadap
suatu proses tingkah laku, misalnya penampilan guru di kelas.
·
Berdasarkan gambaran dari langkah (a) diatas, penilai
menentukan segi-segi mana dari perilaku guru tersebut yang akan diamati
sehubungan dengan keperluannya.
·
Tentukan bentuk pedoman tersebut, apakah bentuk bebas
(tak perlu ada jawaban, tetapi mencatat apa yang tampak) atau pedoman yang
berstruktur (memakai kemungkinan jawaban).
·
Sebelum observasi dilaksanakan, diskusikan dulu
pedoman observasi yang telah dibuat dengan calon observan agar setiap segi yang
diamati dapat dipahami maknanya dan bagaimana cara mengisinya.
·
Bila ada hal khusus yang menarik, tetapi tidak ada
dalam pedoman observasi, sebaiknya disediakan catatan khusus atau komentar
pengamat di bagian akhir pedoman observasi.
Berhasil tidaknya observasi sebagai
alat penilaian bergantung pada pengamat, bukan pada pedoman observasi.
Oleh sebab itu, memilih pengamat yang cakap, mampu, dan menguasai segi-segi
yang diamati itu sangat diperlukan. Observasi untuk menilai proses pembelajaran
dapat dilaksanakan oleh guru di kelas pada saat siswa melakukan kegiatan
belajar. Untuk itu guru tidak perlu terlalu formal memperhatikan perilaku
siswa, tetapi mencatat secara teratur gejala dan perilaku yang ditunjukkan oleh
siswa.
2. Wawancara (interview)
Wawancara atau interview merupakan
salah satu alat penilaian nontes yang digunakan untuk mendapatkan informasi
tertentu tentang keadaan responden dengan jalan Tanya jawab sepihak. Atau
dengan kata lain wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang
dilaksanakan dengan melakukan Tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan
muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.
Ada dua jenis wawancara, yakni
wawancara terpimpin dan wawancara bebas.
·
Wawancara
terpimpin biasa juga disebut wawancara terstruktur atau wawancara sistematis.
Yang dimaksud wawancara terpimpin adalah suatu kegiatan wawancara yang
pertanyaan-pertanyaan serta kemungkinan-kemungkinan jawabannya itu telah
dipersiapkan pihak pewawancara, responden tinggal memilih jawaban yang sudah
dipersiapkan pewawancara.
·
Wawancara
bebas atau wawancara tak terpimpin, pada wawancara seperti ini
responden diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara
sesuai dengan pendapatnya tanpa terikat oleh ketentuan-ketentuan yang telah
dibuat pewawancara.
Sebelum melaksanakan wawancara perlu
dirancang pedoman wawancara. Pedoman ini disusun dengan menempuh
langkah-langkah sebagai berikut:
·
Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara.
·
Berdasarkan tujuan diatas tentukan aspek-aspek yang
akan diungkap dalam wawancara tersebut.
·
Tentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan, yang
bentuk berstruktur ataukah bentuk terbuka.
·
Buatlah bentuk pertanyaan yang sesuai dengan analisis
(c) diatas, yakni membuat pertanyaan yang yang berstruktur atau yang bebas.
·
Ada baiknya dibuat pula pedoman mengolah dan
menafsirkan hasil wawancara, baik pedoman wawncara terpimpin atau untuk
wawancara bebas.
3. Angket
Angket adalah daftar pertanyaan yang
terbagi dalam beberapa kategori. Pembagiannya dibedakan menjadi dua, yaitu
pembagian kuesioner berdasarkan siapa yang menjawab, dan pembagian berdasarkan
cara menjawab. Ditinjau dari responden yang menjawab, maka angket dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu:
·
Angket Langsung. Disebut angket langsung apabila
angket dikirimkan dan diisi langsung oleh orang yang akan dimintai jawaban
tentang dirinya.
·
Angket Tidak Langsung. Angket diisi oleh orang yang
bukan dimintai keterangan tentang dirinya.
Berikut ini merupakan
langkah-langkah menyusun angket:
·
Merumuskan tujuan
·
Merumuskan kegiatan
·
Menyusun langkah-langkah
·
Menyusun kisi-kisi
·
Menyusun panduan angket
·
Menyusun alat penilaian
4. Skala Sikap
Skala sikap digunakan untuk mengukur
sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni
mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada
hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang.Sikap juga
dapat diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang pada
dirinya. Tes skala sikap adalah perasaan suka atau tidak suka atau
kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu atau objek. Seperti sikap
terhadap materi pelajaran, guru, proses pembelajaran, norma-norma tertentu dan
sebagainya. Penilaian tes skala sikap atas 3 (tiga) komponen berikut :
·
Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh
seseorang terhadap objek.
·
Komponen kongnisi adalah kepercayaan atau keyakinan
yang menjadi pegangan seseorang.
·
Komponen konasi adalah kecenderunan untuk berperilaku
atau berbuat dengan cara-cara tertentu terhadap sesuatu objek.
Langkah-langkah pengembangan skala
pada umumnya adalah:
·
Menentukan objek yang dituju, kemudian tetapkan
variabel yang akan diukur dengan skala tersebut.
·
Lakukan analisis variabel tersebut menjadi beberapa
subvariabel atau dimensi variabel, lalu kembangkan indikator setiap dimensi
tersebut.
·
Dari setiap indikator, tentukan ruang lingkup
pernyataan sikap yang berkenaan dengan aspek kognisi, afeksi, dan konasi
terhadap objek sikap.
·
Susunlah pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut
dalam dua kategori yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif, secara
seimbang banyaknya.
Pada garis besarnya penyusunan item
untuk skala, perlu ditempuh langkah–langkah sebagai berikut:
·
Menentukan gejala yang ditemui.
·
Rumuskan perilaku apa yang mengacu sikap apa terhadap
obyek atau gejala tersebut.
·
Rumuskan karakteristik dari perilaku sikap tersebut.
·
Rincilah lebih lanjut tiap karekteristik menjdi
sejumlah atribut yang lebih speifik.
·
Tentukan indikator penilaian terhadap setiap atribut
tersebut.
·
Sususnlah perangkat item sesuai dengan indicator yang
telah dirumuskan.
·
Suatu skala terdiri dari antara 20 sampai dengan 30
item.
·
Susunlah item tersebut, yang terdiri dari separuhnya
dalam bentuk. pernyataan positif dan separuhnya dalm bentuk pernyataan negatif.
·
Tentukan banyak skala: lima atau tujuh atau
sebelas alternatif.
·
Tentukan bobot nilai bagi tiap skalanya. Misalnya
4,3,2,1.0 untuk lima nilai skala, sebagai dasar perhitungan kuantitatif.
5. Studi kasus
Studi kasus pada dasarnya
mempelajari secara intensif seorang individu yang dianggap mengalami kasus
tertentu. Misalnya mempelajari khusus anak nakal, anak yang tidak bisa bergaul
dengan orang lain, anak yang selalu gagal belajar, atau anak pandai, anak yang
paling disukai teman-temannya.
Studi kasus dalam pendidikan bisa
dilakukan oleh guru, guru pembimbing, wali kelas, terutama untuk kasus-kasus
siswa di sekolah. Beberapa Petunjuk untuk melaksanakan studi kasus dalam bidang
pendidikan, khususnya di sekolah:
·
Menetapkan siapa-siapa diantara siswa yang mempunyai
masalah khusus untuk dijadikan kasus.
·
Menetapkan jenis masalah yang dihadapi siswa dan perlu
mendapatkan bantuan pemecahan oleh guru.
·
Mencari bukti-bukti lain untuk lebih meyakinkan
kebenaran masalah yang dihadapi siswa tersebut.
·
Mencari sebab-sebab timbulnya masalah dari berbagai
aspek yang berkenaan dengan kehidupan siswa tersebut.
·
Menganalisis sebab-sebab tersebut dan menghubungkannya
dengan tinkah laku siswa tersebut.
·
Dengan informasi yang telah lengkap tentang faktor
penyebab tersebut, guru dapat menentukan sejumlah alternatif pemecahannya.
·
Alternatif yang telah teruji sebagai upaya pemecahan
masalah dibicarakan dengan siswa untuk secara bertahap diterapkan, baik oleh
siswa itu sendiri maupun guru.
6. Sosiometri
Salah satu cara untuk mengetahui
kemampuan siswa dalam menyesuaikan diri, terutama dengan teman sekelasnya,
adalah dengan teknik sosiometri. Dengan teknik sosiometri ini dapat diketahui
posisi seorang siswa dalam hubungan sosialnya dengan siswa lain. Sosiometri
dapat dilakukan dengan cara menugaskan kepada semua siswa di kelas untuk
memilih temannya yang paling dekat atau paling akrab.
Teknik sosiometri sebaiknya
dilakukan oleh guru wali kelas atau oleh guru pembimbing dalam usahanya sesuai
dengan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya[15]
Adapun
langkah-langkah penyusunan sosiometri ialah:
·
Menentukan kelompok yang akan dipahami
dengan metode sosiometri
·
Menyusun angket sosiometri atau tes
sosiometri untuk diisi oleh anggota kelompok
·
Setiap siswa diminta untuk menulis
blanko yang disediakan nama beberapa teman di dalam kelompok, dan dengan siapa
dia tidak ingin dan tidak suka melalkukan kegiatan tersebut
·
Setelah angket sosiometri diisi,
kemudian di tabulasi dalam matriks sosiometri
·
Berdasarkan matriks tersebut, maka data
dianalisis dengan cara menggambarkan sosiogram, menganalisis hubungan sosial
secara keseluruhan, menghitung indeks sosiometri dan mengisi kartu sosiometri
secara individual
KESIMPULAN
Tes
merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur
sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Tes
merupakan alat yang direncanakan untuk mengukur kemampuan, keahlian atau
pengetahuan.
Adapun perencanaan tes yang dilakukan ialah menentukan
atau merumuskan tujuan tes, mengidentifikasi hasil-hasil belajar (learning
outcomes) yang akan diukur dengan tes itu, menentukan atau menandai hasil-hasil
belajar yang spesifi, merinci mata pelajaran atau bahan pelajaran yang akan
diukur dengan tes itu, menyiapkan tabel spesifikasi (semacam blueprint),
menggunakan tabel spesifikasi tersebut sebagai dasar penyusunan tes.
Prosedur pengembangan tes meliputi identifikasi hasil
belajar, deskripsi materi, pengembangan spesifikasi, menuliskan butir-butir tes
dan kunci jawaban, mengumpulkan data uji coba hasil belajar, uji kualitas tes
dan kompilasi tes
Menurut Sumadi Surybrata, secara umum kemampuan khusus
yang harus dimiliki bagi penulis soal adalah Penguasaan pengetahuan yang
diteskan, kesadaran akan tata nilai yang mendasari pendidikan, pemahaman akan
karakteristik individu yang dites, kemampuan membahas gagasan, penguasaan akan
teknik penulisan soal, dan kesadaran akan kekuatan dan kelemahan dalam menulis
soal.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal.
2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya
Purwanto,
Ngalim. 2010. Prinsip-Prinsip dan Teknik
Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Wildansyah.
2014. Evaluasi Hasil Belajar. Medan:
FIP Unimed
Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Rasyid, Harun. 2009. Penilaian Hasil Belajar. Bandung
: CV Wacana Prima
http://fuzinoviyanti.wordpress.com/2014/04/29/teknik-penyusunan-instrumen-penilaian-non-tes/
[1] Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2009), hal:118
[2] Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi
Pengajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hal:30
[3] Wildansyah, Evaluasi Hasil Belajar,(Medan: FIP Unimed, 2014), hal : 37
[4] Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal
:84
[6] Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal :
85-92
[7] Purwanto, Evaluasi Hasil
Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal :94
[9] Harun Rasyid, Penilaian Hasil Belajar, (Bandung : Cv
Wacana Prima 2009), hal : 178
[10] Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi
Pengajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hal: 39
[11] Ibid., hal : 41
[12] Ibid.,hal:61
[13] Ibid.,
[14] Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi
Pengajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hal:63
[15]
http://fuzinoviyanti.wordpress.com/2014/04/29/teknik-penyusunan-instrumen-penilaian-non-tes/