Kamis, 15 Januari 2015

PERENCANAAN TES, PENGEMBANGAN TES, PENULISAN SOAL DAN PENYUSUNAN NON-TES

PENDAHULUAN
Tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Tes merupakan alat yang direncanakan untuk mengukur kemampuan, keahlian atau pengetahuan. Sehingga, dalam melakukan tes dibutuhkan perencanaan tes, pengembangan tes, prosedur penulisan ataupun penyusunan butir-butir soal.
Untuk merencanakan, mengembangkan maupun menuliskan butir-butir tes tersebut diperlukan adanya langkah-langkah ataupun prosedur yang diikuti secara sistematis sehingga dapat diperoleh tes yang lebih efektif. Dalam merencanakan tes, hal yang lebih dahulu dilakukan ialah menentukan dan merumuskan tujuan tes. Kemudian, dalam pengembangan tes melibatkan kegiatan identifikasi hasil belajar, deskripsi materi, pengembangan spesifikasi, penulisan butir dan kunci jawaban, pengumpulan data uji coba, pengujian kualitas butir dan perangkat, serta komplikasi.
Makalah ini ditulis untuk menambah pengetahuan dan wawasan pembaca dan pemakalah khususnya mengenai perencanaan tes, pengembangan tes dan penyusuna non-tes dan mampu mengaplikasikannya dengan mengikuti prosedur yang ada. Selanjutnya, untuk pembahasan lebih dalam mengenai prosedur dalam merencanakan tes, mengembangkan dan menyusun tes akan dibahas di dalam makalah ini.


PERENCANAAN TES, PENGEMBANGAN TES, PENULISAN SOAL DAN PENYUSUNAN NON-TES
  1. PERENCANAAN TES
Tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Tes juga dapat diartikan sebagai salah satu cara untuk mengetahui kondisi siswa. Kondisi yang dimaksud adalah prestasi belajar siswa.[1]
Tes merupakan alat yang direncanakan untuk mengukur kemampuan, keahlian atau pengetahuan. Dalam merencanakan tes diperlukan adanya langkah-langkah yang harus diikuti secara sistematis sehingga dapat diperoleh tes yang lebih efektif. Adapun perencanaan tes yang dilakukan ialah sebagai berikut:
·      Menentukan atau merumuskan tujuan tes.
·      Mengidentifikasi hasil-hasil belajar (learning outcomes) yang akan diukur dengan tes itu.
·      Menentukan atau menandai hasil-hasil belajar yang spesifik
·      Merinci mata pelajaran atau bahan pelajaran yang akan diukur dengan tes itu.
·      Menyiapkan tabel spesifikasi (semacam blueprint).
·      Menggunakan tabel spesifikasi tersebut sebagai dasar penyusunan tes.[2]
Ada tujuh hal yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan tes, yaitu:
·      Pemilihan butir soal
·      Tipe soal yang akan digunakan
·      Aspek yang akan diuji
·      Format butir soal
·      Jumlah butir soal
·      Distribusi tingkat kesukaran butir soal
·      Kisi-kisi tes.[3]
  1. PROSEDUR PENGEMBANGAN TES
Prosedur pengembangan tes melibatkan kegiatan identifikasi hasil belajar, deskripsi materi, pengembangan spesifikasi, penulisan butir dan kunci jawaban, pengumpulan data uji coba, pengujian kualitas butir dan perangkat, serta komplikasi. Secara lebih lengkap prosedur tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1)      Identifikasi hasil belajar
Hasil belajar harus diidentifikasi bidang studi yang hendak dikukur hasil belajarnya. Di samping itu hasil belajar juga harus diidentifikasi aspek mana yang diukur ranah kognitif, afektif atau psikomotoriknya.
2)      Deskripsi materi
Materi sangat menentukan dalam pengembangan tes. Data hasil belajar yang ingin dikumpulkan didasarkan pada informasi mengenai hasil belajar sebagimana sudah dideskripsikan dalam materi, sehingga data sangat ditentukan oleh uraian materi tentang hasil belajar yang akan diukur datanya.[4]
3)      Pengembangan spesifikasi
Spesifikasi Tes adalah suatu uraian yang menunjukkan keseluruhan kualitas tes dan ciri-ciri yang harus dimiliki oleh tes yang akan dikembangkan. Pengembangan spesifikasi merupakan langkah awal yang menentukan dalam pengembangan perangkat tes, karena apa yang menentukan pada langkah-langkah berikutnya sudah dirancangkan dalam spesifikasi tes.[5]
Spesifikasi pengembangan tes meliputi :
·      Menentukan jenis tes
·      Menentukan banyak butir tes
·      Menentukan waktu pengerjaan
·      Mennetukan peserta uji coba
·      Mennetukan waktu uji coba
·      Menentukan aturan skoring
·      Menentukan kriteria kualitas tes
·      Menyusun kisi-kisi tes
4)      Menuliskan butir-butir tes dan kunci jawaban
Kisi-kisi tes adalah rancangan sebagai dasar penulisan butir-butir tes. Butir ditulis untuk mengukur variabel dengan berpedoman pada kisi-kisi. Sehubungan dengan penulisan butir tes, Suryabrata memberikan pedoman sebagai berikut:
·      Nyatakan soal sejelas mungkin
·      Pilihlah kata-kata yang mempunyai arti tepat
·      Hindarilah pengaturan kata yang kompleks dan janggal
·      Masukkan semua keterangan yang diperlukan untuk membuat jawaban
·      Hindarilah memasukkan kata-kata yang tidak berfungsi
·      Rumuskan soal setepat mungkin
·      Sesuaikn taraf kesukaran soal dengan kelompok dan tujuan yang dimaksudkan
·      Hindarilah isyarat ke arah jawaban benar yang tidak perlu
Kunci jawaban harus ditentukan dalam spesifikasi tes hasil belajar supaya orang lain dapat mengikuti perolehan hasil belajar responden dari jawaban yang dibuatnya. Sebagaimana jenis jawaban yang dituntutnya, kunci jawaban soal esai berbeda dengan objektif. Kunci jawaban soal esai berupa uraian, sedang objektif berupa pilihan dari beberapa alternatif.
5)      Mengumpulkan data uji coba hasil belajar
Pengumpulan data uji coba dilakukan dengan mengujikan instrumen uji coba tes yang ditulis berdasarkan kisi-kisi.[6]

6)      Uji kualitas tes
Butir tes yang ditulis berdasarkan kisi-kisi adalah butir yang secara teori baik. Untuk memastikan apakah butir yang secara teori baik juga baik secara empiris perlu dilakukan uji coba kualitas. Uji kualitas dilakukan untuk menjamin bahwa tes layak sebagai sebuah alat ukur. Setelah berdasarkan uji kualitas menunjukkan bahwa tes memenuhi syarat, maka tes dapat digunakan untuk mengukur atau mengumpulkan data hasil belajar.
7)      Kompilasi tes
Kompilasi tes adalah menyusun kembali butir setelah uji coba dengan membuang butir yang jelek dan menata butir yang baik. Butir kompilasi adalah butir yang siap digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar.[7]

  1. PENULISAN SOAL
Menurut Sumadi Surybrata, secara umum kemampuan khusus yang harus dimiliki bagi penulis soal adalah:
·           Penguasaan pengetahuan yang diteskan
·           Kesadaran akan tata nilai yang mendasari pendidikan
·           Pemahaman akan karakteristik individu yang dites
·           Kemampuan membahas gagasan
·           Penguasaan akan teknik penulisan soal, dan
·           Kesadaran akan kekuatan dan kelemahan dalam menulis soal
Fungsi tes tidak semata-mata sebagai alat ukur saja, melainkan memiliki fungsi motivasi dan pembentukan sikap bagi peserta didik. Oleh karena itu penulisan soal hendaknya  memahami nilai-nilai yang mendasari pendidikan, seperti tujuan pendidikan, filsafat pendidikan, sistem pendidikan, psikologi, garis-garis besarnya saja.
Dalam menulis soal diperlukan kemampuan untuk membahas gagasan dalam bahasa verbal yang jelas dan mudah dipahami maksudnya, sebab soal merupakan wakil dari pendidik yang hadir dihadapan peserta didik’oleh karena itu penulisan soal membutuhkan bahasa yang lugas dan tidak berbelit-belit.[8]
Menurut Bott (1995), prinsip umum yang dapat dijadikan sebagai dasar penyusunan tes dalam penulisan butir-butir soal ialah :
·        Kaitkan butir-butir tes dengan tujuan pembelajaran
·        Perencanaan tes
·        Penyiapan tes
·        Uji coba tes
·        Evaluasi tes[9]

Dalam penulisan butir-butir soal, baik dalam bentuk tes objektif maupun tes essai (uraian), terdapat syarat-syarat penyusunannya. Syarat penyusunan tes objektif terdiri dua bagian yaitu:
1.      Syarat-syarat umum
Berikut ini beberapa syarat yang perlu diperhatikan dalam menyusun objective test :
·        Tiap bentuk dari tes objektif harus didahului dengan penjelasan atau anjuran bagaimana cara mengerjakannya.
·        Penjelasan atau anjuran itu harus diusahakan jangan terlalu panjang, tetapi jelas bagi yang menjawabnya (disesuaikan dengan tingkat sekolah dan kecakapan bahasa anak).
·        Hindarkan pertanyaan yang mempunyai lebih dari satu pengertian atau yang dapat diartikan atau ditafsirkan bermacam-macam.
·        Tiap-tiap butir soal haruslah tetap, gramatikanya baik sehingga tidak membingungkan dan menimbulkan salah tangkap.
·        Jangan menyusun item secara langsung  menjiplak dari buku, karena item yang demikian hanya memaksa siswa untuk menghafal dan kurang merangsang siswa untuk berfikir.
·        Harus diteliti jangan sampai item yang satu mempermudah atau mempersukar item yang lain (terutama dalam menyusun true-false dan multiple choice).
·        Janganlah item yang satu bergantung pada item yang lain atau item yang terdahulu

2.      Syarat-syarat Khusus
a)      Untuk completion atau fill-in
·      Bahasa hendaknya jelas, kalimat jangan terlalu panjang sehingga mudah dipahami.
·      Yang dihilangkan atau harus diisi (titik-titik) janganlah mengenai satu hal saja, tetapi harus beberapa hal. Misalnya dalam sejarah, yang dihilangkan jangan hanya “tanggal dan tahunnya” atau “nama tokoh-tokoh” atau “peristiwa”, tetapi harus mencakup semua hal tersebut.
·      Jawaban (isi titik-titik) jangan merupakan kalimat panjang. Sebab kalau demikian, bukan tes objektif lagi, melainkan menyerupai tes essay.
·      Jumlah jawaban (titik-titik) harus tertentu supaya memudahkan pengetes untuk menskornya (10, 20, 25 dan sebagainya)[10]

b)      Untuk true-false
·        Hindarkan item yang dapat dinilai “benar” dan “salah” secara meragukan.
Contoh:
B – S : Saya mendaftar ke IKIP karena takut kalau-kalau tidak diterima di UI
Apakah item ini benar atau salah? Calon mahasiswa yang menggunakan IKIP sebagai cadangan, secara jujur akan membenarkan item tersebut. Akan tetapi, bagi pengetes maksudnya adalah sebaliknya.
·        Soal-soal atau item tidak boleh mengandung kata-kata yang merupakan atau terlalu menunjukkan jawabannya. Misalnya dengan digunakannya kata-kata: kadang-kadang, mungkin, sudah pasti, barangkali, selalu, dan sebagainya.
·        Sedapat mungkin hindarkanlah statement yang negatif, yang mengandung kata “tidak” atau “bukan”. Contoh item yang salah”
B – S :  Teleskop kadang-kadang (selalu) sama gunanya dengan teropong bintang.
B  –  S  :     Termometer bukan pengukur suhu udara.
·        Hindarkanlah kalimat yang terlalu panjang atau kalimat majemuk yang  meragukan.
Contoh yang salah :
B – S : Bapak sistem pengajaran klasikal ialah Peestalozi dan ia mendirikan Kinder Garten yang pertama
Contoh yang baik:
B – S  : Pestalozi adalah pelopor sistem pengajaran klasikal
B – S :  Sekolah Monstessori terkenal dengan nama Kinder Garten

c)      Untuk multiple choice
·      Statement harus jelas merumuskan suatu masalah. Tentukanlah sebelumnya bahwa hanya ada satu jawaban yang paling benar dan tepat.
·      Baik statement maupun option sedapat mungkin jangan merupakan suatu kalimat yang terlalu panjang.
·      Hindarkanlah option yang tidak ada sangkut-pautnya satu sama lain. Dengan kata lain, option (pilihan jawaban) hendaknya homogen.[11]
Contoh yang salah:
Hasil perkebunan Provinsi Lampung adalah:
a.       Karet         b. Lada                        c. Terigu                       d. Bawang
Contoh yang baik:
Hasil perkebunan Lampung yang terbesar adalah:
a.       Karet         b. Lada                        c. Kelapa sawit d.kopi

Sedangkan dalam penulisan butir-butir soal esai, perlu kiranya guru atau pembuat tes memperhatikan hal-hal berikut ini:
  1. Sebelum memulai menulis soal yang dimaksud, hendaknya jelas dalam pikiran kita proses mental manakah yang kita harapkan dari mudrid untuk menjawab soal tersebut.
Guru atau penyusun tes harus benar-benar memahami macam-macam jenis respons stimulus (jenis soal) yang diperlukan untuk menimbulkan atau memancing keluarnya respons-respons tersebut.
  1. Gunakanlah bahan-bahan atau himpunan bahan-bahan dalam menyusun soal-soal essay tersebut.
Contoh:
Soal 1 : Metode-metode apakah yang telah dipakai di Amerika Serikat untuk menjaga dan mengawasi penyakit-penyakit yang banyak menyerang masyarakat?
Soal nomor 1 di atas sebenarnya kurang baik karena siswa yang menjawab soal tersebut hanya berusaha mengingat kembali nama beberapa metode yang ditanyakan. Siswa tidak atau kurang menggunakan daya berpikirnya. Pertanyaan atau soal tersebut aan menjadi lebih baik jika diubah seperti soal nomor 2 berikut ini:[12]
Tabel
Sebab-Sebab Dan Banyaknya Kematian Pada Tahun 1900 Dan 1967

Sebab kematian
Angka kematian per 100.000 orang
1900
1967
1.      Penumonia
2.      Diare dan enteritis
3.      Penyakit-penyakit hati
4.      Kanker
5.      Difteria
175,4
139,9
137,4
64,0
40,3
21,8
2,0
399,9
160,9
0,02
Perhatikan data pada tabel di atas! Jelaskan bagaimana pengubahan dalam kondisi-kondisi kehidupan di Amerika Serikat antara tahun 1900 dan 1967 berdasarkan perubahan angka kematian seperti terlihat dalam tabel.
  1. Mulailah pertanyaan atau soal essay itu dengan kata-kata seperti : “Bandingkan”, ”Berilah alasan”, “Berilah contoh-contoh yang sesuai”, “Terangkan bagaimana....”, “Jelaskan/ramalkan apa yang terjadi jika....”, dan “Jelaskan bagaimana pendapat Anda”. Janganlah memulai soal essay dengan kata-kata: “Apa”, “Siapa”, “Kapan”, atau “Bilamana” dan “Berapa”
  2. Tulislah pertanyaan atau soal essay itu sedemikian rupa sehingga tugas apa yang harus dilakukan siswa jelas dan tidak mempunyai arti ganda (ambiguous) bagi setiap murid.[13]
  3. Soal essay berhubungan dengan hal-hal yang merupakan “controversial issue” dalam masayarakat. Penyusunannya hendaklah diarahkan untuk menilai bagaimana pendapat dan pengertian siswa terhadap issue yang ditanyakan, dan bukan untuk menuntut siswa agar menerima suatu kesimpulan atau cara pemecahan tertentu. Kita menegetahui bahwa banyak issue yang dialami individu dan masyarakat tidak ada jawaban atau kesimpulann yang bersifat umum atau yang dianggap benar oleh semua orang.
Ada pertanyaan seperti : Usaha apakah yang tepat untuk dilakukan oleh Gubernur DKI untuk menanggulangi makin banyaknya gelandangan umum?” Akan tetapi kita dapat menanyakan kepada siswa untuk menanggapi masalah tersebut dengan pertanyaan sebagai berikut:
“Untuk menanggulangi masalah mengenai semakin banyaknya gelandangan di DKI Jakarta, Gubernur Jakarta Raya telah mengeluarkan surat keputusan tentang larangan pendaftaran menjadi penduduk baru di DKI bagi orang yang berasal dari daerah lain.” Bagaimana pendapat Anda tentang surat keputusan tersebut? Jelaskan dan berilah alasan-alasan yang logis dan tepat!
Dengan soal semacam ini guru hendaknya jangan menilai apakah pendapat siswa sesuai dengan pendapatnya atau sesuai dengan apa yang telah diterangkan, tetapi ia hendaknya menilai bagaimana kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapatnya sendiri dan caranya mempertanyakan dengan alasan yang tepat dan logis.
  1. Usahakan agar soal essay yang kita susun itu benar-benar dapat menimbulkan perilaku yang kita kehendaki untuk dilakukan oleh siswa. Soal-soal essay buatan guru seringkali bersifat kurang menuntut kemampuan skill atau aplikasi seperti:
“Berilah definisi tentang apa yang dimaksud dengan kesehatan yang baik!”
”Apa yang dimaksud dengan imunitas aktif dan imunitas pasif? Dan apa pula perbedaannya?”
Dalam soal-soal seperti di atas, guru tidak menekankan pada apa atau bagaimana pendapat siswa itu sebenarnya, tetapi pada apakah siswa mengetahui materi faktual yang telah dipelajarinya  
  1. Sesuaikan panjang-pendeknya dan kompleksitas jawaban dengan tingkat kematangan siswa.[14]
  1. PENYUSUNAN NON-TES
Evaluasi non-tes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak mengunakan tes. Teknik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara kelompok.
Penilaian non-test adalahh penilaian pengamatan perubahan tingkah laku yang berhubungan dengan apa yang telah diperbuat atau yang telah dikerjakan oleh peserta didik dibandingkan  dengan apa yang dikethui atau dipahaminya.

Berikut ini jenis-jenis instrumen non-tes dan penyusunannya:
1.      Observasi
Observasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan memperhatikan tingkah lakunya. Secara umum observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.
            Bentuk pengisian pedoman bisa secara bebas dalam bentuk uraian, bisa pula dengan bentuk member tanda cek (V) pada kolom jawaban observasi bila pedoman yang dibuat telah tersedia jawabannya (terstruktur).
Ada tiga jenis observasi, yaitu :
·      Observasi langsung, yakni pengamatan yang dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat.
·      Observasi dengan alat (tidak langsung), yaitu observasi yang dilaksanakan dengan menggunakan alat seperti miskroskop untuk mengamati bakteri, surya kanta untuk melihat pori-pori kulit.
·      Observasi partisipasi, yaitu pengamatan yang harus melibatkan diri atau ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang diamati.

Langkah-langkah yang ditempuh dalam membuat pedoman observasi langsung adalah sebagai berikut:
·      Lakukan terlebih dahulu observasi langsung terhadap suatu proses tingkah laku, misalnya penampilan guru di kelas.
·      Berdasarkan gambaran dari langkah (a) diatas, penilai menentukan segi-segi mana dari perilaku guru tersebut yang akan diamati sehubungan dengan keperluannya.
·      Tentukan bentuk pedoman tersebut, apakah bentuk bebas (tak perlu ada jawaban, tetapi mencatat apa yang tampak) atau pedoman yang berstruktur (memakai kemungkinan jawaban).
·      Sebelum observasi dilaksanakan, diskusikan dulu pedoman observasi yang telah dibuat dengan calon observan agar setiap segi yang diamati dapat dipahami maknanya dan bagaimana cara mengisinya.
·      Bila ada hal khusus yang menarik, tetapi tidak ada dalam pedoman observasi, sebaiknya disediakan catatan khusus atau komentar pengamat di bagian akhir pedoman observasi.
Berhasil tidaknya observasi sebagai alat penilaian bergantung pada pengamat, bukan pada pedoman observasi. Oleh sebab itu, memilih pengamat yang cakap, mampu, dan menguasai segi-segi yang diamati itu sangat diperlukan. Observasi untuk menilai proses pembelajaran dapat dilaksanakan oleh guru di kelas pada saat siswa melakukan kegiatan belajar. Untuk itu guru tidak perlu terlalu formal memperhatikan perilaku siswa, tetapi mencatat secara teratur gejala dan perilaku yang ditunjukkan oleh siswa.
2.      Wawancara (interview)
Wawancara atau interview merupakan salah satu alat penilaian nontes yang digunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan responden dengan jalan Tanya jawab sepihak. Atau dengan kata lain wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan Tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.
Ada dua jenis wawancara, yakni wawancara terpimpin dan wawancara bebas.
·      Wawancara terpimpin biasa juga disebut wawancara terstruktur atau wawancara sistematis. Yang dimaksud wawancara terpimpin adalah suatu kegiatan wawancara yang pertanyaan-pertanyaan serta kemungkinan-kemungkinan jawabannya itu telah dipersiapkan pihak pewawancara, responden tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan pewawancara.
·      Wawancara bebas atau wawancara tak terpimpin, pada wawancara seperti ini responden diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara sesuai dengan pendapatnya tanpa terikat oleh ketentuan-ketentuan yang telah dibuat pewawancara.
Sebelum melaksanakan wawancara perlu dirancang pedoman wawancara. Pedoman ini disusun dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
·      Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara.
·      Berdasarkan tujuan diatas tentukan aspek-aspek yang akan diungkap dalam wawancara tersebut.
·      Tentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan, yang bentuk berstruktur ataukah bentuk terbuka.
·      Buatlah bentuk pertanyaan yang sesuai dengan analisis (c) diatas, yakni membuat pertanyaan yang yang berstruktur atau yang bebas.
·      Ada baiknya dibuat pula pedoman mengolah dan menafsirkan hasil wawancara, baik pedoman wawncara terpimpin atau untuk wawancara bebas.

3.      Angket
Angket adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Pembagiannya dibedakan menjadi dua, yaitu pembagian kuesioner berdasarkan siapa yang menjawab, dan pembagian berdasarkan cara menjawab. Ditinjau dari responden yang menjawab, maka angket dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
·   Angket Langsung. Disebut angket langsung apabila angket dikirimkan dan diisi langsung oleh orang yang akan dimintai jawaban tentang dirinya.
·   Angket Tidak Langsung. Angket diisi oleh orang yang bukan dimintai keterangan tentang dirinya.
Berikut ini merupakan langkah-langkah menyusun angket:
·      Merumuskan tujuan
·      Merumuskan kegiatan
·      Menyusun langkah-langkah
·      Menyusun kisi-kisi
·      Menyusun panduan angket
·      Menyusun alat penilaian

4.      Skala Sikap
Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang.Sikap juga dapat diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang pada dirinya. Tes skala sikap adalah perasaan suka atau tidak suka atau kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu atau objek. Seperti sikap terhadap materi pelajaran, guru, proses pembelajaran, norma-norma tertentu dan sebagainya. Penilaian tes skala sikap atas 3 (tiga) komponen berikut :
·      Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang terhadap objek.
·      Komponen kongnisi adalah kepercayaan atau keyakinan yang menjadi pegangan seseorang.
·      Komponen konasi adalah kecenderunan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu terhadap sesuatu objek.
Langkah-langkah pengembangan skala pada umumnya adalah:
·      Menentukan objek yang dituju, kemudian tetapkan variabel yang akan diukur dengan skala tersebut.
·      Lakukan analisis variabel tersebut menjadi beberapa subvariabel atau dimensi variabel, lalu kembangkan indikator setiap dimensi tersebut.
·      Dari setiap indikator, tentukan ruang lingkup pernyataan sikap yang berkenaan dengan aspek kognisi, afeksi, dan konasi terhadap objek sikap.
·      Susunlah pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut dalam dua kategori yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif, secara seimbang banyaknya.
Pada garis besarnya penyusunan item untuk skala, perlu ditempuh langkah–langkah sebagai berikut:
·      Menentukan gejala yang ditemui.
·      Rumuskan perilaku apa yang mengacu sikap apa terhadap obyek atau gejala tersebut.
·      Rumuskan karakteristik dari perilaku sikap tersebut.
·      Rincilah lebih lanjut tiap karekteristik menjdi sejumlah atribut yang lebih speifik.
·      Tentukan indikator penilaian terhadap setiap atribut tersebut.
·      Sususnlah perangkat item sesuai dengan indicator yang telah dirumuskan.
·      Suatu skala terdiri dari antara 20 sampai dengan 30 item.
·      Susunlah item tersebut, yang terdiri dari separuhnya dalam bentuk. pernyataan positif dan separuhnya dalm bentuk pernyataan negatif.
·      Tentukan banyak skala: lima atau  tujuh atau sebelas alternatif.
·      Tentukan bobot nilai bagi tiap skalanya. Misalnya 4,3,2,1.0 untuk lima nilai skala, sebagai dasar perhitungan kuantitatif.

5.      Studi kasus
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang individu yang dianggap mengalami kasus tertentu. Misalnya mempelajari khusus anak nakal, anak yang tidak bisa bergaul dengan orang lain, anak yang selalu gagal belajar, atau anak pandai, anak yang paling disukai teman-temannya.
Studi kasus dalam pendidikan bisa dilakukan oleh guru, guru pembimbing, wali kelas, terutama untuk kasus-kasus siswa di sekolah. Beberapa Petunjuk untuk melaksanakan studi kasus dalam bidang pendidikan, khususnya di sekolah:
·        Menetapkan siapa-siapa diantara siswa yang mempunyai masalah khusus untuk dijadikan kasus.
·        Menetapkan jenis masalah yang dihadapi siswa dan perlu mendapatkan bantuan pemecahan oleh guru.
·        Mencari bukti-bukti lain untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah yang dihadapi siswa tersebut.
·        Mencari sebab-sebab timbulnya masalah dari berbagai aspek yang berkenaan dengan kehidupan siswa tersebut.
·        Menganalisis sebab-sebab tersebut dan menghubungkannya dengan tinkah laku siswa tersebut.
·        Dengan informasi yang telah lengkap tentang faktor penyebab tersebut, guru dapat menentukan sejumlah alternatif pemecahannya.
·        Alternatif yang telah teruji sebagai upaya pemecahan masalah dibicarakan dengan siswa untuk secara bertahap diterapkan, baik oleh siswa itu sendiri maupun guru.

6.      Sosiometri
Salah satu cara untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyesuaikan diri, terutama dengan teman sekelasnya, adalah dengan teknik sosiometri. Dengan teknik sosiometri ini dapat diketahui posisi seorang siswa dalam hubungan sosialnya dengan siswa lain. Sosiometri dapat dilakukan dengan cara menugaskan kepada semua siswa di kelas untuk memilih temannya yang paling dekat atau paling akrab.
Teknik sosiometri sebaiknya dilakukan oleh guru wali kelas atau oleh guru pembimbing dalam usahanya sesuai dengan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya[15]
            Adapun langkah-langkah penyusunan sosiometri ialah:
·        Menentukan kelompok yang akan dipahami dengan metode sosiometri
·        Menyusun angket sosiometri atau tes sosiometri untuk diisi oleh anggota kelompok
·        Setiap siswa diminta untuk menulis blanko yang disediakan nama beberapa teman di dalam kelompok, dan dengan siapa dia tidak ingin dan tidak suka melalkukan kegiatan tersebut
·        Setelah angket sosiometri diisi, kemudian di tabulasi dalam matriks sosiometri
·        Berdasarkan matriks tersebut, maka data dianalisis dengan cara menggambarkan sosiogram, menganalisis hubungan sosial secara keseluruhan, menghitung indeks sosiometri dan mengisi kartu sosiometri secara individual




KESIMPULAN
Tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Tes merupakan alat yang direncanakan untuk mengukur kemampuan, keahlian atau pengetahuan.
Adapun perencanaan tes yang dilakukan ialah menentukan atau merumuskan tujuan tes, mengidentifikasi hasil-hasil belajar (learning outcomes) yang akan diukur dengan tes itu, menentukan atau menandai hasil-hasil belajar yang spesifi, merinci mata pelajaran atau bahan pelajaran yang akan diukur dengan tes itu, menyiapkan tabel spesifikasi (semacam blueprint), menggunakan tabel spesifikasi tersebut sebagai dasar penyusunan tes.
Prosedur pengembangan tes meliputi identifikasi hasil belajar, deskripsi materi, pengembangan spesifikasi, menuliskan butir-butir tes dan kunci jawaban, mengumpulkan data uji coba hasil belajar, uji kualitas tes dan kompilasi tes
Menurut Sumadi Surybrata, secara umum kemampuan khusus yang harus dimiliki bagi penulis soal adalah Penguasaan pengetahuan yang diteskan, kesadaran akan tata nilai yang mendasari pendidikan, pemahaman akan karakteristik individu yang dites, kemampuan membahas gagasan, penguasaan akan teknik penulisan soal, dan kesadaran akan kekuatan dan kelemahan dalam menulis soal.




DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Purwanto, Ngalim. 2010. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Wildansyah. 2014. Evaluasi Hasil Belajar. Medan: FIP Unimed
Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Rasyid, Harun. 2009. Penilaian Hasil Belajar. Bandung : CV Wacana Prima
http://fuzinoviyanti.wordpress.com/2014/04/29/teknik-penyusunan-instrumen-penilaian-non-tes/





[1] Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), hal:118
[2] Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hal:30
[3] Wildansyah, Evaluasi Hasil Belajar,(Medan: FIP Unimed, 2014), hal : 37
[4] Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal :84
[6] Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal : 85-92
[7] Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal :94                                                                                                
[9] Harun Rasyid, Penilaian Hasil Belajar, (Bandung : Cv Wacana Prima 2009),  hal : 178
[10] Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hal: 39
[11] Ibid., hal : 41
[12] Ibid.,hal:61
[13] Ibid.,
[14] Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hal:63
[15] http://fuzinoviyanti.wordpress.com/2014/04/29/teknik-penyusunan-instrumen-penilaian-non-tes/